Dilema e-Sport dan Pendidikan Kita

Siapa yang tidak mengenal kalau presiden Jokowi memiliki kedekatan dengan generasi millenial. Ia sering kali mengajak kaum muda untuk selalu berkreasi, berekspresi dan mampu menangkap peluang di era digital. Baru-baru ini presiden Jokowi memberikan apresiasi dengan memuji jawara mobile legend. Ya, Jess No Limit nama julukannya. Ia adalah jawara mobile legend yang mencuri perhatian presiden.

Bagaimana tidak, di usianya yang masih muda, Jess No Limit meraih kesuksesan dan mempunyai penghasilan ratusan juta. Siapa yang tidak bangga dengan prestasi yang ditorehkannya. Di satu sisi, ini adalah sesuatu yang menguntungkan di tengah-tengah isu persaingan pekerjaan, itu juga peluang yang perlu ditangkap oleh generasi muda. Akan tetapi, disisi lain hal ini menjadi suatu tantangan bahkan ancaman tersendiri bagi generasi muda.

Pujian yang diberikan oleh presiden kepada para “gamer” berprestasi bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ini merupakan langkah positif dan apresiasi kepada generasi muda yang berprestasi di bidang e-Sport. Namun di sisi lain, hal ini akan menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Kecenderungan seseorang dalam bermain game online bisa menghambat pendidikannya. Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa game online mempunyai candu bagi pemainnya. Seseorang yang telah kecanduan terhadap game online akan menghaibiskan waktunya untuk terus bermain dan mengorbankan segala waktu yang dia miliki. Jika seseorang tidak memiliki self- management yang baik, bukan tidak mungkin ia akan terjerumus hingga merugikan dirinya.

Memang, hari ini kita tidak bisa menolak kecanggihan teknologi, yang ada adalah bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dengan teknologi tersebut. Sehingga jangan sampai kita menjadi budak kecanggihan teknologi, di mana ia akan mengatur manusia bukan manusia yang mengaturnya. Perlu kiranya generasi muda memahami dan mendalami berbagai sisi baik dan buruknya game online.

Game online (e-Sport) dan dampak yang ditimbulkan

Kecanggihan teknologi memiliki dampak positif dan negatif dalam kehidupan kita hari ini. Siapa yang mampu memanfaatkannya dengan baik, maka hasilnya juga akan baik. Namun jika manusianya sendiri yang dimanfaatkan oleh teknologi, maka kerugian datang padanya. Berbicara mengenai game online ini, barangkali banyak pengaruh yang ia berikan. Selain pada sisi positif, game online juga memiliki dampak negatif. Mari kita bicarakan dulu sisi negatifnya sebelum melihat sisi positifnya. Beberapa dampak negatif game online antaranya adalah seseorang menjadi ketagihan untuk memainkannya, sehingga ia lupa dengan tugas dan tanggung jawabnya. Banyak kita dapati siswa-siswa membolos sekolah hanya karena ingin bermain game online.

Selain itu game online juga bisa mempengaruhi interaksi sosial dan psikologis seseorang. Game online menjadikan seseorang menjadi menyendiri, karena saking asik dan menariknya permainan hingga ia lupa dengan lingkungan sekitar. Ya, meskipun dalam konten game kadang terdapat fitur chatting antar pemain, namun hal itu hanya sebatas dunia maya, tidak terjadi interaksi yang nyata. Secara psikologis, game online juga mempunyai dampak yang buruk. Salah satunya adalah menjadikan seseorang malas melakukan pekerjaan apapun selain hanya aktifitas ‘nge-game’ saja. Kemalasan ini berakibat pada tidak selesainya tanggung jawab atau tugas perkembangannya.

Meskipun di dalamnya terdapat dampak negatif, game online juga memiliki sisi positif. Sebagaimana yang diungkapkan presiden Jokowi, bahwa di era 4.0, generasi muda harus bisa menangkap peluang sebaik-baiknya. Yang dimaksud di sini adalah generasi muda diminta untuk tanggap terhadap perkembangan teknologi, memanfaatkan teknologi untuk menolong dirinya. Melalui game online, presiden menjelaskan seseorang mampu menjadikannya sebagai sarana mencari penghasilan. Ini adalah alternatif lain dalam pekerjaan.

Namun perlu digaris bawahi, bahwa sisi positif dari game online ini yang perlu menjadi perhatian serius dan menjadi wilayah garapan para pemerhati anak dan pendidikan. Jangan sampai karena tergiur dengan penghasilan yang didapat para gamer profesional tersebut ditafsirkan sebagai ajakan kepada masyarakat untuk mementingkan game online dan mengesampingkan pendidikan. Oleh sebab itu, perlu kiranya, hemat penulis, adalah memberikan pandangan obyektif terhadap perkembangan game online, bahwa banyak hal-hal negatif yang disebabkan oleh kecanduan terhadap game online, meskipun dalam hal itu juga terdapat sisi positifnya.

Kontradiksi dengan dunia pendidikan

Semakin hari, tantangan dunia pendidikan dirasa semakin berat. Ditengah-tengah kampanye pendidikan yang mengedepankan karakter siswa, pendidikan seakan ‘dihantam’ oleh maraknya siswa yang gandrung kepada game online. Sebenarnya dunia pendidikan kita hari ini juga masih banyak memiliki problem, salah satunya adalah belum adanya kejelasan kurikulum yang dianut. Seringkali perubahan kurikulum yang terjadi memaksa kaum pendidik untuk menyesuaikan. Ini merupakan problem di internal pendidikan itu sendiri. Kemudian datang tantangan dan ancaman bernama teknologi internet yang membawa berbagai macam bentuk kecanggihan, salah satu yang ditawarkan adalah game online.

Game online telah banyak mempengaruhi siswa yang merupakan subyek didik dalam pendidikan. Banyak siswa yang kecanduan game online sehingga meninggalkan aktifitas belajar di sekolah yang menjadi kewajibannya. Sehingga berbabagai upaya ditempuh oleh para pendidik untuk menjauhkan siswanya dari sisi negatif game online. Game online, oleh pendidikan dianggap sebagai hambatan dalam belajar siswa, tidak hanya itu saja berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh game online menjadikan siswa menjadi apatis, tidak peduli dengan lingkungannya. Tentu hal ini merupakan sesuatu yang tidak diinginkan oleh pendidikan.

Game online seakan menjadi musuh bagi dunia pendidikan di tengah-tengah upayanya dalam membentuk manusia berkarakter. Maka tidak heran, jika kemudian pendidikan menyainginya dengan kampanye kembali kepada game tradisional (back to traditional game). Permainan-permainan tradisional dimunculkan kembali untuk menjawab tantangan permainan modern, game online. Dengan segala macam narasinya, pendidikan berupaya membangun kesadaran kembali bahwa permainan tradisional memiliki keunggulan dari berbagai sisi kemanusiaan daripada game online. Permainan tradisional dianggap relevan untuk menunjang pendidikan karakter bangsa. Dan di sisi lain, game online terus disudutkan dalam hal ini oleh pendidikan sebagai biang kerok menurunkan minat belajar siswanya karena track record negatif  mempengaruhi subyek didiknya.

Nampaknya hal ini menjadi kontradiksi antara cita-cita pendidikan dan kemajuan game online. Ini juga menjadi suatu kritik kepada pemerintah dalam menanggapi kemajuan dunia game online (e-Sport). Bahwa benar pemerintah melalui presiden menganggap game online dalam hal ini e-Sport sebagai tantangan bagi generasi muda. Namun saya kira pemerintah juga harus memberikan batasan-batasan tersendiri bagi siapapun yang ingin mendalami e-Sport. Supaya hal ini tidak disalahpahami oleh generasi muda sehingga menjadikan statemen tersebut sebagai rujukan dalam menguatkan keinginanannya hanya untuk bermain game online dan mengesampingkan pendidikan. Pemerintah juga harus mengangkat kembali dukungannya kepada permainan tradisional yang merupakan hasil budaya bangsa sebagai penguat karakter bangsa. Jangan sampai hal ini menjadi berat sebelah, dengan hanya memperhatikan sisi komersial dari game online tanpa ada imbangan pembentukan karakter manusia sebagai cita-cita pendidikan.

Stand point

Dalam hal ini, saya kira pemerintah perlu benar-benar mempertimbangkan bagaimana upaya pendidikan dalam membentuk karakter manusia. Di satu sisi, apresiasi kepada warga negara yang berprestasi di bidang e-Sport perlu dilakukan, namun di sisi lain perlu adanya batasan dalam memahami dan menggunakan e-Sport itu sendiri supaya tidak menjadi candu bagi generasi muda yang bisa menjadi bumerang bagi pendidikan. Tindakan preventif atau kuratif perlu dilakukan sebagai proteksi bagi anak-anak dan generasi muda dari candu game online (e-sport). Karena menurut penulis, game online ini sudah menjadi salah satu tantangan bagi perkembangan anak-anak bangsa. Jika anak-anak dan generasi muda mampu memanfaatkannya, maka banyak benefit yang didapat, namun sebaliknya, jika mereka larut dan tenggelam dalam candu game online, ini menjadi ancaman serius bagi dunia pendidikan.

Azmi Mustaqim

Azmi Mustaqim

Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

More Posts

Beri Komentar