Christopher

TANAH Amerika begitu tandus, layaknya sedang berada di gurun. Bukan karena tak ada air yang dapat kau teguk, tapi karena teknologi belum berkembang. Pada saat itu, pemuda-pemuda dari seantero wilayah negeri sedang berkumpul, berkoordinasi, mengadakan rapat dadakan, dipimpin oleh seorang pemuda yang bernama Christopher. Pemuda itu ialah pemuda yang akan mengubah peradaban.

***

Saat masih embun, Mooresburg melahirkan seorang cendekiawan hebat. Dunia menjamunya dengan seabrek pemikiran. Hingga saat dibesarkan, beberapa pertanyaan kerap muncul di tempurung Christopher; kenapa aku dilahirkan di sini? Mengapa aku tak mati saja? Dan bagaimana caraku mengirim pemikiran?

Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian diendapkan di pikirannya. Christopher tak jemu berkelana, mencari jawaban atas pertanyaan yang fundamental.

“Dik, aku mau kerja,” jelas Christopher kepada kekasihnya.

“Kerja di mana, Sayang?”

“Di sebuah toko mesin Kleinsteubers yang letaknya di Milwaukee.”

“Hahh?” Kekasihnya terperangah. Bekerja di sana dapat memperlebar jarak temu antara mereka. “Bukankah Milwaukee amat jauh dari sini?!”

Christopher mengangguk.

Tak menunggu perizinan dari kekasihnya untuk bisa kerja di Milwaukee. Pemuda cerdas itu lantas menuju terminal. Menumpang bus antarkota menuju tempat kerjanya. Ia akan magang selama lebih dari tiga bulan. Bekerja di sebuah penerbitan surat kabar.

Sejak saat itulah, hubungan antara Christopher dengan kekasihnya semakin renggang. Pemuda brilian itu seakan membikin jarak serupa jarak pandang antara mata dengan punggung yang saling berjauhan.

Namun, renggangnya hubungan Christopher dengan kekasihnya justru menjadi angin segar baginya. Salah seorang kolega mendatangi pemuda pintar tersebut yang sedang mengotak-atik sesuatu.

“Chris, apa yang sedang kau kerjakan?” tanya koleganya.

“Aku sedang membikin eksperimen,” jelas Chris, memandang Samuel W. Soule. “Ini akan jadi penemuan yang brilian.”

“Apakah itu semacam robot?”

“Bukan, Samuel. Ini adalah mesin ketik.”

“Mesin ketik?” tanya Samuel, bingung.

Christopher memperlihatkan mesin ketik ukuran besar ke Samuel. “Kita bisa menulis surat melalui mesin ini. Kau tahu? Kekasihku sudah kutinggal sangat lama. Nanti, aku ingin membikin ia terkejut melalui surat yang kutulis dengan mesin ini.”

Eksperimen demi eksperimen terus dikerjakan oleh Christopher hingga memakan waktu cukup lama. Di hati kecilnya, sebenarnya ia tak tega dengan kekasih hatinya. Hampir dua tahun lebih ia meninggalkannya tanpa kabar. Tetapi, Chris tak putus asa. Ia mengira peradaban akan lekas maju melalui penemuannya.

Tahun itu, tahun 1967, Chris telah menemukan sebuah catatan pendek di Scientific American yang menggambarkan Pterotype, yakni sebuah mesin tik prototype yang diciptakan oleh John Pratt. Namun, Chris menganggap bahwa pterotype terlalu kompleks serta berkemungkinan untuk dimodifikasi menjadi lebih praktis.

Samuel berkabar dengan Chris, “Halo, Kawan. Seperti yang kau sampaikan dahulu. Bagaimana kalau kita bikin proyek?”

“Hahh? proyek?” Chris terperanjat.

“Iya, kita bikin proyek tentang mesik ketik. Aku akan mengajak kawan baikku, Glidden. Ia pasti suka.” Samuel meyakinkan Chris di sela hari kerja mereka. Samuel yakin, Chris akan menyetujui proyek yang ia tawarkan.

“Boleh, tapi aku tak punya banyak dana untuk memenuhi proyekmu.”

“Tenang, Chris. Aku akan cari sponsor,” tukas Samuel.

“Boleh. Aku sepakat.”

Akhirnya, mereka bertiga mengerjakan proyek tersebut. Seharian penuh, mereka mandi peluh. Lupa makan, lupa tidur, dan bahkan lupa pada diri sendiri. Hingga pada akhirnya, di tahun 1886, sebuah mesin ketik bersejarah telah berhasil diciptakan.

“Kupikir, bakal butuh waktu lama untuk mematenkannya,” bimbang Chris. Kemudian, Chris meneguk kopi dan menyulut rokok—tanda bahwa ia akan beristirahat sejenak, menunggu langit melindap dan berwarna jingga. Meski mereka tak kenal dengan tidur, mereka akrab dengan malam. Malam seperti kawan baik. Penemuan demi penemuan mereka selesaikan di ujung malam.

Beberapa waktu berselang, mesin ketik tersebut telah berhasil mereka rampungkan. Karya mereka kemudian digunakan untuk mengirim ratusan surat ke berbagai pihak, salah satunya ke James Densmore yang berasal dari Meadville, Pennsylvania.

Densmore mendatangi markas Christopher, Samuel, dan Glidden untuk mencari kesepakatan. Ia berucap, “Aku mengenal surat yang kau kirim. Tatanannya bagus, tidak ditulis tangan, tidak membikin mataku sakit. Ada huruf dan angka yang berselancar. Hm, apakah kalian menjualnya? Aku ingin membeli hak paten mesin ini.”

“Tapi, mesin ini belum sempurna,” cemas Chris, juga kedua kawannya.

“Itu bisa diurus belakangan. Yang jelas, aku sudah memimpikan mesin ini sejak lama. Sejak pacarku kutinggalkan tiga bulan.”

Ah, Chris jadi kepikiran kekasihnya. Sudah hampir tiga tahun ia tak memberi kabar. Semoga kekasihnya tak berpaling. Sebab, pemuda dengan otak cemerlang itu sedang menyiapkan peradaban.

“Gimana, sepakat?” tanya Densmore sekali lagi.

“Sepakat, tapi hanya seperempat hak patennya,” imbuh Chris.

“Oke.”

Hari itu, benar yang diresahkan oleh Densmore. Mesin ketik ciptakan tiga pemuda brilian itu masih memiliki kelemahan. Stenograf yang ditawarkan oleh mesin ketik masih berantakan, jauh dari kenyamanan.

“Kau tahu, bahwa stenograf ialah bagian terpenting dari mesin ini?” tanya Densmore di sebuah kedai kopi. Sejak mesin ketik itu dibeli oleh Densmore, Chris sudah jarang menemui dua kawan baiknya. Ia lebih sering bersua dengan kawan barunya—yang ia pikir dapat memberikan pencerahan terhadap penemuannya.

“Iya, dan stenograf di sini masih acak-acakan.”

Asap rokok mengepul ke langit. Densmore mencorat-coret kertas putih. Memberi beberapa gambaran stenograf kepada Chris. Christopher pun melihatnya. Namun, rasa puas belum juga tiba. Beberapa stenograf harus dimodifikasi sedemikian rupa agar memberikan rasa nyaman untuk pengguna. Ya, gambaran-gambaran Densmore masih jauh dari rasa nyaman. Alhasil, seharian suntuk mereka terus bereksperimen, hingga akhirnya, saat yang ditunggu itu tiba.

“Lumayan,” ucap James O. Clephane, teman baru di Washington DC yang mereka kasih rancangan stenograf.

“Kau beri nama apa rancanganmu ini?” tanya James, setelah menyulut rokok dari bibir manisnya.

“QWERTY.”

“Itu berasal dari enam baris pertama, ya?”

Christopher mengangguk, Densmore mengikut.

“Bagus, aku merasa nyaman dengan karyamu ini. Hm, boleh dibeli? Maksudku, aku boleh membeli hak patennya?” tanya James.

Namun, penawaran yang diajukan oleh James ditolak Chris. Menurutnya, ia akan sangat senang jikalau ada sebuah perusahan ternama yang membelinya. Ya, tentu itulah marketing strategy. Chris bisa sekalian menjual nama.

Sebuah perusahan senjata Remington akhirnya tertarik dengan karya Chris. Mereka melakukan penawaran yang fantastik dengan harga sekitar $ 12.000. Chris sepakat. Pada tahun itu, tahun 1873, mesin ketik karya Chris telah terjual sebanyak 5.000 mesin. Sebuah angka penjualan yang mengejutkan.

***

Beberapa ilmuawan telah berkumpul di sebuah aula. Rapat penting akan segera dimulai. Christopher, pemimpin rapat, akan memberi beberapa sambutan kepada ilmuwan-ilmuwan yang hadir malam itu. Chris muda, ia sungguh bersemangat. Sebab, baginya, mesin ketik akan mengubah peradaban.

“Jadi, apa rencana kita?” tanya salah seorang ilmuwan.

“Melalui mesin ketik ini, kita akan menulis. Saya yakin, tulisan-tulisan dari seantero wilayah negeri akan mengubah peradaban. Sesungguhnya, penemuan mesin ketik ini masih biasa bila dibandingkan dengan tulisan-tulisan para penulis, penyair, dan sastrawan, baik pemula maupun yang sudah terkemuka,” jelas Chris.

Ruangan rapat senyap. Lengang seketika.

“Ketahuilah, satu jam sebelum rapat dimulai, kekasihku telah mengabariku setelah beberapa tahun aku tidak memberinya kabar. Kalian tahu? Ia sudah menikah dengan lelaki lain. Jelas aku patah hati. Tapi, aku percaya bahwa tulisan terbaik lekas muncul dari rentetan patah hati yang pelik.

“Banyak penulis yang lahir dari rahim patah hati. Dan aku percaya, tulisan yang tersiar di berbagai media, termasuk di portal media Ruang Diskusi, misalnya. Atau tulisan di koran-koran, atau tulisan yang telah jadi buku, semua tulisan itu ialah penemuan-penemuan brilian yang dapat mengalahkan penemuan mesin ketik usang ini,” pungkas Chris dengan perasaan berkobar dan hati yang layu.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar