Bonus Demografi Pemuda Milenial dan Sumpah Deradikalisasi

Profil pemuda di Indonesia saat ini, berdasarkan lansiran BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2014, terdapat prosentase jumlah pemuda (usia 16-30 tahun) mencapai 24,5 % atau setara 61,8 juta orang dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta jiwa. Jumlah tersebut diproyeksikan akan terus meningkat hingga pada tahun 2020, penduduk berusia 15-39 tahun berjumlah 39,64 % dari total proyeksi 268 juta jiwa penduduk Indonesia.

Tingginya populasi pemuda – yang merupakan bagian dari angkatan usia produktif (usia 18-60 tahun), ini menunjukkan bahwa saat ini dan bertahun ke depan terjadi bonus demografi, di mana pemuda banyak menempati posisi-posisi penting di ranah publik, bahkan dapat melebihi keberadaan apa yang dapat disebut sebagai kaum dewasa (usia 31-60 tahun) dan kaum tua (usia 61 tahun ke atas). Apakah bonus demografi ini kemudian menjadi keuntungan atau justru kerugian, hanya para pemuda itu yang dapat memberikan jawabnya.

Antara Peluang dan Ancaman

Dan tampaknya berangkat dari potensi tersebut, Alvara Research Center melakukan survei pada awal Oktober 2017 terhadap masyarakat profesional – yang tentu saja dalam usia produktif, terkait relasi agama dan negara (RMOL.co).

Dari survei tersebut, didapati hasil yang cukup mengejutkan. Dari aspek kepemimpinan, ada 29,7 % yang menolak pemimpin non-muslim. Kemudian 27,6 % mendukung penerapan Perda Syari’ah karena dianggap tepat dalam mengakomodasi agama mayoritas. Terkait dengan ideologi negara, hanya 84,5 % yang mendukung Pancasila, sedangkan 15,5 % sisanya memilih Islam sebagai ideologi yang tepat.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah ada 29,6 % profesional yang setuju bahwa negara Islam harus diperjuangkan untuk penerapan Islam secara kaaffah, dan sebanyak 16 % mendukung negara Islam tersebut dalam bentuk negara khilafah. Terakhir, 19,6 % profesional menyetujui jihad untuk tegaknya negara Islam tersebut. Sayangnya tidak dijelaskan pengertian jihad seperti apa yang dimaksud, apakah dalam wujud gairah mewujudkannya secara hukum atau dengan cara radikal.

Meskipun relatif sedikit, jumlah responden profesional (baca: pemuda produktif) yang memiliki pandangan menolak pemimpin non-muslim (27,6 %), menolak Pancasila (15,5 %), mendambakan negara Islam (29,6 %), mendambakan khilafah (16 %), dan mendukung jihad (19,6 %) dapat menjadi alarm yang menyadarkan kita tentang potensi ancaman yang ada pada ceruk masyarakat yang di masa mendatang menjadi populasi dominan di Indonesia ini.

Jika saja, katakanlah terjadi hal yang tidak diinginkan, yakni pandangan para profesional ini makin banyak disepakai sejawatnya dan dapat menjadi warna umum pemikiran kaum pemuda, maka ancaman bagi keutuhan NKRI jelas di depan mata. Bagaimana mungkin NKRI yang sudah dilahirkan oleh founding fathers dari beragam suku dan agama ini dapat bertahan, jika para pemuda lebih menginginkan negara Islam? Atau bahkan khilafah sebagai wujud negaranya? Tentu saja hal ini harus dimaknai tidak semata ancaman belaka, melainkan sebagai sebuah tantangan.

Tantangan Pemuda Milenial

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-90 pada 28 Oktober 2018 ini menyiratkan tanya besar bagi kita, “apa yang sudah pemuda hari ini berikan untuk bangsa dan negara?”. Pertanyaan yang diderivasi dari tutur filsuf Marcus Cicero yang sempat dirujuk oleh Presiden ke-39 Amerika Serikat, John F. Kennedy, ini menjadi menarik, karena memang semestinya bagi pemuda “jangan tanyakan apa yang negara beri untukmu, tapi tanyakan apa yang engkau beri untuk negara”.

Jika kita memperhatikan kondisi bonus demografi pemuda Indonesia dan tantangan dari sebagian profesional terhadap keutuhan NKRI, maka pertanyaan di atas dapat menemukan relevansinya. Apa yang dapat pemuda milenial perjuangkan untuk keutuhan NKRI?

Pertama, pemuda Indonesia dari generasi milenial harus memiliki gairah cinta tanah air yang kuat sebagaimana telah ditunjukkan oleh para pemuda yang menggelorakan Sumpah Pemuda 90 tahun silam. Tanpa rasa hubbul wathan (cinta tanah air), siapapun tak akan tulus mempertahankan NKRI. Dengannya, pemuda dapat ikhlas dan ringan tangan untuk aktif membangun negeri dan membantu pemerintah menuntaskan masalah-masalah sosial di masyarakat.

Kedua, pemuda Indonesia zaman now harus mampu membina persatuan. Realita bahwa Indonesia adalah negara yang terdiri dari 1340 suku bangsa dan 1211 bahasa (BPS, 2010) serta enam agama resmi dan beragam kepercayaan lainnya, menunjukkan bahwa kita tidak sama. Pun ketika disebutkan bahwa Islam adalah agama mayoritas, tidak serta merta ada pengistimewaan yang patut diberikan untuk penganutnya. Namun demikian, keragaman haruslah dirawat baik-baik dengan cara mendahulukan dan mengutamakan persatuan. Rasa sama-sama Indonesia inilah yang harus dipupuk, dengan demikian upaya mempertahankan NKRI sebagai rumah bersama dapat diikhtiyari.

Ketiga, pemuda Indonesia harus mandiri. Salah satu ancaman besar bagi bonus demografi adalah meningkatnya pengangguran dari kelompok usia produktif karena suplai tenaga kerja tak dapat ditampung oleh kebutuhan. Oleh karena itu, kreatifitas dan inovasi untuk menciptakan kemandirian, minimal untuk diri sendiri, sangat diperlukan. Dan tentu akan lebih elok lagi jika dapat mewujudkan lapangan pekerjaan untuk pemuda lainnya.

Berpijak pada tiga hal di atas, dan sekali lagi mengingat pada tantangan terhadap keutuhan NKRI, pemuda milenial perlu menyempurnakannya dengan komitmen bahkan sumpah, sebagaimana pada 28 Oktober 1928 lampau. Syahadah atau pengakuan bahwa pemuda Indonesia bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia, mesti dipandang sebagai sumpah setia (mitsaqan ghalidha) untuk mempertahankan NKRI dari ancaman yang merongrongnya, termasuk ide-ide radikal para profesional yang mendambakan negara Islam untuk menggantikan NKRI. Wallahu a’lam.

Dawam M Rohmatulloh

Dawam M Rohmatulloh

Dawam M. Rohmatulloh adalah alumnus PPM Islam Nusantara UNU Indonesia Jakarta. Tinggal di Ponorogo, Jawa Timur, kini mengabdikan diri sebagai Ketua PAC GP Ansor Mlarak dan teman belajar mahasiswa di IAIN & INSURI Ponorogo.

More Posts

Follow Me:
FacebookYouTube

Beri Komentar