Bendera Tauhid atau Bendera HTI?

Viral – Sejak kemaren hingga siang ini ramai di sosial media tentang pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Banyak komentar dari berbagai kalangan, baik netizen hingga para ahli sejarah, tafsir, dan kajian keIslaman. Beragam sekali komentar tentang persoalan itu, ada yang menganggap bahwa itu kalimat tauhid dan ada pula yang lain itu adalah bendera HTI yang telah dilarang.

Bentuk bendera bertuliskan tauhid itu dimiliki oleh beberapa kelompok, diantaranya HTI sendiri, ISIS, dan al-Qaeda. Bahkan Arab Saudi juga memiliki bendera nasional bertuliskan kalimat tauhid. Oke, tidak akan ada yang menyangkal bahwa kalimat tauhid itu selalu kita posisikan sebagai SUCI. Bahkan kalimat tauhid merupakan sirit perjuangan Nabi hingga sekarang pastinya. Lalu bagaimana jika itu bendera HTI atau ISIS yang berhaluan radikal?

Sejauh ini kalimat tauhid ditemukan di dalam al-Qur’an. Juga dilafalkan dalam ibadah sholat. Pun juga dilafalkan secara berjamaah dalam majlis tahlil dan dzikir. Kalimat tauhid yang ada pada al-Qur’an, jamaah dzikir, dan bacaan-bacaan sholat, itu benar –benar diresapi dalam hati. Lalu bagaimana jika kalimat tauhid dijadikan sebagai sarana untuk melawan dan membinasakan orang lain?

Lihat, ISIS di berbagai negara selalu menggunakan bendera yang sama untuk menjalankan aksi terorisme. Dengan bendera itu mereka membakar, membunuh, merusak, dan seterusnya. Meraka menebarkan ancaman di mana-mana dengan dalih meninggikan kalimat tauhid.

Bendera yang bertuliskan kalimat tauhid itu digunakan oleh kelompok radikal untuk hal-hal yang sama sekali tidak mencerminkan ketauhidan. Mereka teriak dan memekikkan takbir tapi memenggal orang lain. Bendera bertuliskan kalimat tauhid itu dijadikan sebagai media untuk dalih kepentingan kelompok, untuk mengamini segala tindakan brutal diatasnamakan agama.

Jadi setujukan anda jika bendera itu dibakar? Bukan tauhidnya yang dibakar tapi bendera ideologisnya. Lebih baik bendera ideologis seperti itu dibakar sekarang daripada di masa depan akan membakar seluruh negeri ini. Lihat, ISIS telah membakar apa saja yang dianggap keliru dan tidak sejalan dengannya.

Memang anda-anda mau negeri ini dibakar oleh ideologi radikal mengatasnamakan kalimat tauhid? Tentu tidak kan. Bayangkan saja jika negeri ini dipenuhi dengan kemarahan, gampangnya marah hanya gara-gara perbedaan pandangan dan pemahaman. Toh, negeri ini kan sudah memang beragam, kita sudah biasa hidup dalam keberagaman. Jadi jangan jadikan negeri ini membara sebagaimana Suriah, Iran, dan lainnya.

Tentang HTI, kan sudah jelas pemerintah sudah membekukan organisasi satu ini. Mestinya segala bentuk simbol tentang organisasi juga dilarang. Orang sampai saat ini masih sangat alergi dengan PKI bahkan simbolnya, kenapa? Jelas karena sudah dilarang. Kenapa tidak demikian dengan HTI? Simbolnya, benderanya harus dilarang, bukan melarang kalimat tauhidnya tapi melarang simbol-simbol ideologisnya.

Ayolah berpikir lebih dewasa, sejauh ini rasanya semakin gampang sekali umat ini emosi dan suka marah-marah. Kita perlu ruang diskusi biar segala hal itu tidak jatuh pada saling menuduh sana benar sini salah. Posisi binner, hukum halal-haram, sesat-kafir, dan seterusnya perlu dihindari dulu. Jangan gampangan kebakaran jenggotlah jika ada hal yang masih bisa dicari ruang pemecahnya.

Soal membakar bendera itu bukankah sering kita dengar kisah, jika ada sobekan al-Qur’an untuk menjaganya lebih baik dibakar agar tidak terinjak atau disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya. Misalkan ini, misalkan lho, pembakaran bendera HTI (bukan bendera tauhid) untuk mensucikan kalimat tauhid agar tidak disalah gunakan, bukankah itu juga baik?

Salahgunakan untuk apa? Banyak, bendera itu oleh ISIS dan koleganya dikibarkan untuk mempersekusi budaya sebuah negara. Bahkan untuk membenarkan tindakan membunuh bagi siapa saja yang tidak sepaham. Untuk menjaga hal-hal itu terjadi bukankah lebih baik bendera ideologis itu tidak berkibar lagi di negeri ini. Agar apa? Agar kalimat tauhid tidak lagi dipersalahgunakan untuk hal-hal ideologis bahkan politis.

Oke, mari belajar tentang kodifikasi al-Qur’an oleh khalifah Utsman. Tentu sudah banyak yang tau bahwa Mushaf Utsmani kini adalah satu-satunya yang masih tersisa. Sejarah dimasa lalu mengisahkan bahwa khalifah Utsman telah membakar mushaf kepunyaan sahabat-sahabat lain, tujuannya agar menyisakan satu al-Qur’an dipegang oleh umat Islam.

Para kritikus sejarah al-Qur’an, memang ada yang menganggap tindakan Utsman itu sebuah “kecelakaan” sejarah. Karena kemungkinan ada ayat-ayat lain yang belum terkodifikasi olehnya. Tapi lihat khalifah Utsman tetap membakar mushaf-mushaf itu, bahkan tentu ada kalimat tauhid di dalamnya. Apa yang dilakukan Utsman sebenarnya menyelamatkan kita dari konflik.

Jika Khalifah Utsman dulu tidak menegaskan adanya satu mushaf, mungkin kini umat Islam di berbagai dunia akan saling bertengkar. Mungkin dari kelompok sana dan kelompok lain memiliki mushaf yang isinya berbeda dangan milik Utsman. Dan, untungnya Utsman sudah memprediksi kemungkinan itu, kini kita hanya punya satu mushaf yang sama, tidak ada saling tengkar.

Inilah mungkin yang jadi alasan pembakaran bendera HTI itu. Supaya kalimat tauhid tidak menjadikan kita saling bertengkar. Karena apapun organisasi keagaman yang kamu miliki, kalimat tauhidnya sama, kalimat tauhidnya tidak ada yang berbeda. Mari kita jadikan kalimat tauhid sebagai sarana kita saling bersatu. Kita implementasikan kalimat tauhid sebagai spirit kebangsaan dan nasionalisme. Bukan sebagai sarana saling klaim kebenaran antar kelompok yang berbeda-beda.

Tentang pembakaran bendera HTI ini akan banyak memunculkan pakar tafsir dan pakar sejarah baru di dunia perbenderaan. Tapi apapun itu, ayolah sudahi saling tengkar dan emosi. Mari kita perbanyak tahlilan, supaya suasana hari ini semakin adem.

Febri Hijroh Mukhlis

Febri Hijroh Mukhlis

Founder ruangdiskusi.com

More Posts

Follow Me:
Facebook

Beri Komentar