Babi Haram

Babi-babi itu menyerang rumah-rumah warga dan sesekali menguik. Banyak semak belukar yang tercerabut, termasuk padi-padi yang akan menguning juga ladang perkebunan lain. Warga setempat panik dan berniat untuk mencekik puluhan babi-babi itu yang sifatnya seperti babi meskipun memang mereka ialah babi, dan bukan manusia yang menyerupai babi.

***

Siang itu, beberapa warga setempat memadati warung kopi milik Rini, seorang kembang desa yang baru tamat Sekolah Menengah Atas dan tidak melanjutkan studinya karena kurang biaya. Asap rokok menyembul dari mulut salah seorang warga. Ia memamerkan gawai barunya yang mewah dan lebih mahal dari harga dirinya sendiri. Tapi, warga yang lainnya hanya meresponsnya biasa-biasa saja. Sebab, sudah terlampau sering lelaki itu memamerkan barang-barang mewah saban minggu sekali di warung kopi milik Rini.

“Aku baru ganti gawai. Sebab, gawaiku yang lama sudah tidak kusukai,” pamer lelaki yang menyulut rokok itu. “Gawaiku yang lain sudah kupakai buat ganjal pintu. Mereka semua tidak berguna.”

“Kau sudah dua puluh dua kali pamer barang-barang mewah baru. Apa kau tidak lelah?” celetuk salah seorang warga di warung kopi milik Rini, seorang kembang desa yang memutuskan bekerja di warungnya sendiri dan tidak melanjutkan kuliah karena kurang biaya.

“Buat apa lelah? Justru, minggu depan aku mau pamer mobil baru. Mobilku yang lama sudah berdebu dan mau kuhibahkan ke pembantu baruku.”

Warga-warga yang ngopi dibikinnya geleng-geleng.

Lalu, lelaki itu, yang sering pamer barang-barang mewah saban seminggu sekali itu, beranjak dari tempat duduknya. Sebungkus rokok bercukai ia masukkan ke dalam saku celananya. Ia membayar semua pesanan warga yang sedang ngopi di warung kopi milik Rini, warung yang dikelola sendiri oleh seorang kembang desa bernama Rini yang tak melanjutkan studinya karena miskin itu.

Lelaki itu melangkah pergi. Sialnya, sepatu pantofelnya terkena lumpur di kubangan dekat warung kopi milik Rini.

“Waduh, aku harus ganti sepatu lagi,” ucapnya, santai.

Mobil sedan melaju riang meninggalkan warung kopi miliki Rini dan beberapa warga yang sedang duduk bersantai sambil menikmati secangkir kopi dan menyulut rokok kretek. Lelaki itu telah pergi. Minggu depan ia bakal ke sini lagi dengan membawa barang-barang mewah baru yang akan ia pamerkan.

“Siapa, sih, lelaki itu?” tanya salah seorang warga.

Namun, tak ada yang tahu siapa lelaki yang suka memamerkan barang-barang mewah baru saban seminggu sekali itu di warung kopi milik Rini yang dikelola oleh Rini sendiri yang kini sudah berusia dua puluh satu tahun.

***

Babi-babi itu terus menguik dan menyerang rumah-rumah warga. Sepuluh ekor babi masuk ke salah satu rumah. Babi-babi yang masuk ke salah satu rumah warga itu memorakporandakan isi rumah, termasuk perabotan dapur dan barang-barang mahal yang disimpan oleh penghuninya. Babi-babi itu membabi buta rumah-rumah. Setelah selesai di satu rumah, babi-babi itu akan pindah ke rumah lain yang mereka anggap belum luluh lantak.

Salah seorang warga menghubungi ketua RT setempat dan memintanya untuk mengusir babi-babi yang sifatnya seperti babi, meskipun mereka ialah babi dan bukan manusia yang menyerupai babi itu.

Beberapa warga mengambil senjata tajam sekenanya. Ada yang mengambil cangkul, ada yang mengambil garpu, ada yang mengambil linggis, ada yang mengambil sekop, dan ada yang mengambil mulutnya sendiri sebagai sebuah senjata yang paling mematikan daripada senjata-senjata yang diambil oleh warga-warga di desanya. Warga-warga yang telah mengambil senjata itu lantas berkumpul di tanah lapang dekat balai desa. Di sana, mereka akan menghadang laju babi-babi yang sifatnya seperti babi itu sebelum beberapa rumah luluh lantak karena mereka serang secara membabi buta.

“Ikuti aba-abaku!” teriak Pak RT, menginstruksikan warga-warganya yang sedang naik pitam dan tak sabar untuk mencekik babi itu dengan senjata tajam yang mereka bawa dan bukan mencekik dengan tangan.

Semua warga berwajah merah bagai tomat ranum.

Babi-babi yang menyerang rumah telah keluar dari dalam rumah. Babi-babi itu kemudian masuk melalui jendela rumah yang lainnya. Si penghuni rumah lupa menutup jendela. Ia hanya mengunci pintu saja.

Tidak perlu waktu lama bagi babi-babi itu untuk membikin harta kekayaan warga-warga sirna. Sebagian gerombolan babi yang lainnya sedang membubuti sawah dan ladang-ladang. Banyak tetumbuhan yang mati sebelum waktunya. Para petani dibikinnya naik pitam dan memutuskan untuk bergabung dengan Pak RT dan beberapa warga yang sedang berbaris sambil membawa senjata tajam.

“Itu dia!” teriak Pak RT. Warga-warga bersiap-siap menanti aba-aba dari Pak RT. “Segerombolan babi itu akan menuju ke sini.”

Wajah antusias mencuat dari masing-masing warga. Mereka memegang senjata tajamnya erat-erat, bersiap mencekik babi-babi sialan itu yang sifatnya seperti babi meskipun mereka memanglah babi.

“Jangan ada yang memulai, sebelum aku memberi aba-aba,” ucap Pak RT sekali lagi dengan wajah tegang.

Segerombolan babi-babi besar berwarna hitam legam sekelam jelaga bersiap menerobos barisan warga-warga yang bersiap menghadang laju mereka. Seekor babi bertubuh tambun seperti perut pejabat kebanyakan makan spageti dan hamburger telah melesat bagai kilat di depan babi-babi yang lainnya. Sepertinya, ia pemimpin gerombolan babi-babi itu

“Seraaaaaaaaaannnggg!” perintah Pak RT.

Seminggu kemudian, lelaki itu datang lagi. Ia datang ke warung kopi milik Rini, seorang kembang desa yang kini telah tamat SMA dan tidak dapat melanjutkan studinya karena himpitan ekonomi itu, dengan mengendarai mobil Pajero. Mobilnya yang lama telah ia hibahkan ke pembantu barunya seperti yang ia janjikan kepada warga-warga yang sedang ngopi di warung kopi milik Rini.

Lelaki itu berjalan santai menghindari kubangan lumpur karena ia tak mau harus mengganti sepatunya lagi. Namun, belum sempat ia itu duduk, warga-warga yang sedang ngopi itu menghadangnya.

“Hei, kau! Siapa pun namamu dan dari mana pun asalmu, kami tak peduli,” teriak salah seorang warga dengan lantang. “Enyahlah kau dari sini!”

“Loh, ada apa ini?” tanya lelaki itu, bingung.

“Kau pelihara babi ngepet, ya?” Salah seorang warga yang sedang ngopi di warung kopi milik Rini menimpali.

“Aku tak memelihara apa pun,” sanggah lelaki itu.

“Bohong! Kau punya duit banyak begitu, tak mungkin jika tak memelihara babi ngepet. Pasti kau yang telah mencuri duit-duit warga di sini, ya?!”

“Sungguh. Aku tak memelihara apa pun, termasuk babi najis dan haram yang kalian maksud.” Lelaki yang memakai jas hitam dan mengendarai mobil Pajero itu tetap membantah sangkaan warga.

“Kami tidak percaya!” Salah seorang warga berdiri dengan membawa cangkul. “Enyah kau dari sini, sebelum kepalamu kami cekik dengan cangkul.”

Akhirnya, lelaki yang memakai jas berwarna hitam dengan Pajero yang menjadi tumpangannya itu urung ngopi di warung kopi milik Rini, seorang kembang desa yang mustahil bisa kuliah karena duitnya telah berkurang.

Tetapi, sebelum lelaki itu benar-benar angkat kaki, ia menimpali, “Aku benar-benar tidak memelihara babi ngepet yang haram itu. Jika kalian tak percaya juga, silakan kalian bertanya pada babi-babi di hutan. Kalau perlu, aku datangkan babi-babi itu pada kalian secara sukarela.”

Warga-warga yang ngopi di warung Rini saling tatap.

“Bahkan, babi-babi itu tidak suka dengan kalian yang suka makan duit. Dulu, aku sering datang ke sini saban hari. Aku tinggal di hutan yang kini jadi warung kopi milik Rini. Dulu, warung ini adalah rumahku dan aku suka melihat babi-babi itu tumbuh. Tetapi, sekarang ini banyak orang seperti babi karena ia telah dibutakan oleh materi. Babi-babi akan menjadi saksi bahwa aku tidak memelihara babi ngepet dan mereka akan marah karena kalian telah menjadi babi,” lanjut lelaki itu.

Babi-babi itu menyerang barisan warga-warga dan Pak RT yang sedang menghadang laju mereka di dekat balai desa. Siang itu, hujan tiba. Tapi, bukan hujan air, melainkan hujan senjata tajam dan hujan darah merah di sebuah desa yang dulu merupakan hutan tempat babi-babi itu tumbuh dan berkembang. Saling serang terjadi siang itu juga. Tak ada yang tahu kubu mana yang menang. Sebab, mereka sama; sama-sama babi dan sama-sama saling membabi buta dunia karena dibutakan oleh duit. Salah seorang dari mereka memaki, “Babi haram!”

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar