Aristoteles Mencintai Lasmini

Seorang lelaki dari Macedonia keluar rumah. Ia memungut kepingan-kepingan kaca yang bersepai di jalan. Darah amis mengalir membasuh muka jalan. Seorang wanita malang didapati sedang tidur lelap di tengah jalan dan lupa caranya bangun. Orang-orang mengerumuninya. Pak RW juga ikut nimbrung. Ia penasaran, mengapa warganya keluar rumah, padahal hari sudah petang, bukan waktunya berangkat kerja, atau mengantar anak ke sekolah. Ternyata, kecelakan telah terjadi petang itu.

“Loh, siapa yang menabrak wanita ini?” tanya Pak RW, geram.

“Sepertinya ia menabrak pembatas jalan di pertigaan, Pak.” Salah seorang warga menyahut, memberikan hipotesisnya.

“Oh, iya. Benar juga,” ucap Pak RW, dahinya mengernyit. “Seharusnya, ia bisa belok ke kiri atau ke kanan.”

Aristoteles, pemuda Macedonia itu, kesal. “Mungkin, wanita ini tidak percaya bahwa bumi itu bulat. Ia mengira bumi itu lurus, makanya tidak mau belok ke kiri atau ke kanan.”

Tak berselang lama, Proxenus datang.

“Bumi itu memang bulat. Kalian dengar? Keponakanku telah memaparkannya. Besok-besok, kalian harus percaya bahwa bumi itu bulat, jika tidak ingin nasib kalian seperti wanita malang ini,” sahut Proxenus menengahi.

Pak RW dan warga mengangguk takzim.

Kemudian, seluruh warga pergi meninggalkan kerumunan. Mereka memulai kembali aktivitasnya masing-masing; ada yang sedang kongko-kongko di warung kopi sambil mencaci maki dirinya sendiri, ada yang sedang menjahit baju, dan ada yang sedang menggauli istrinya. Tetapi, sebelum mereka benar-benar bubar barisan, Aristoteles mencegah mereka terlebih dulu.

“Tunggu dulu!” teriak Aristoteles, menahan warga.

Seluruh warga berbalik arah, bertanya-tanya.

“Bentar, bentar, aku mikir dulu,” ucap Aristoteles sambil jarinya menyentuh kening. “Orang mati itu tak bisa berbuat apa-apa. Wanita ini telah mati. Berarti, wanita ini tak bisa berbuat apa-apa. Kita harus menguburkan jenazahnya,” perintah Aristoteles, sigap.

“Silogisme yang bagus, Ris.” Proxenus menepuk pundak keponakannya.

Aristoteles, Proxenus, dan warga akhirnya memakamkan jenazah wanita malang yang tak percaya bahwa bumi itu bulat tersebut. Isak tangis pecah petang itu. Langit turun hujan, seluruh peziarah basah kuyub, termasuk keluarga dari wanita separuh baya yang meninggal. Ini merupakan kecelakaan ke tujuh kalinya dengan siklus yang sama—menabrak pembatas jalan.

***

Rembulan telah tiba, mengusir matahari dari tahtanya. Seseorang yang belum tidur di malam hari pasti pikirannya terbebani. Aristoteles belum tidur. Aristoteles pikirannya terbebani. Ia memandang langit-langit kamar. Sejumlah pertanyaan bermunculan, meminta untuk dijawab. Pertanyaan-pertanyaan itu ialah: mengapa aku masih bujang? Orang bujang pasti hidupnya sepi. Mengapa aku dilahirkan bila aku yang bujang ini harus merasa sepi? Aristoteles memikirkan hal itu.

Proxenus yang belum tidur mendatangi keponakannya.

“Kenapa belum tidur?” tanya Proxenus, bingung—mengetahui lampu kamar Aristoteles masih menyala.

“Karena aku bujang, Paman,” jelas Aris. “Aku belum tidur karena pikiranku terbebani. Pikiranku terbebani karena aku dilahirkan menjadi seorang bujang. Oleh sebab itu, aku belum tidur karena aku masih bujang, Paman.”

Proxenus menggeleng-geleng. “Kau terlalu memikirkan banyak hal, Ris. Tidak berati bila kau tidak berpikir, maka kau tak ada. Jika kau tak ada, maka kau telah mati. Itu hanyalah kesimpulan yang sesuai dengan koridornya.”

“Iya, tapi aku ingin menikah, Paman.”

“Apa sudah ada calonnya, Ris?”

“Belum, Paman. Aku tak ingin punya istri yang tidak percaya bahwa bumi itu bulat, lalu meninggal karena menabrak pembatas jalan.” Aris melengos, berbalik arah memandang guling yang bergambar Pokemon.

“Apa kau mengenal Lasmini, Aris?”

“Siapa itu Lasmini, Paman?” tanya Aristoteles, penasaran.

“Ia seorang wanita, penjual nasi pecel. Paman sangat suka dengan pecel. Ia bisa memasakkan nasi pecel untukmu.”

“Oh, iya?”

Proxenus mengangguk.

“Apakah ia percaya bahwa bumi itu bulat, Paman?”

Paman Aristoteles tersenyum, semringah. “Lasmini suka baca buku. Aku sering melihatnya berjualan sambil membaca. Saat sedang sepi pembeli, Lasmini menyempatkan waktu untuk membaca. Katanya, membaca buku itu laksana kita sedang berpetualang.

“Ada banyak tempat yang dapat kita jelajahi. Kita dapat melihat lucunya Plato saat masih bayi. Kau tahu? Waktu masih balita, Plato sangat suka dengan gula aren. Atau, bisa jalan-jalan menyelami pemikiran Socrates di Athena, dan ikut mencampuri urusan Herakleitos maupun Pythagoras. Sangat seru. Dan, ketika Lasmini selesai membaca, maka pikirannya akan berhenti di tempat semula, di warung makan nasi pecel miliknya. Ia seolah sedang memutari bumi, sehingga, ia percaya bahwa bumi itu bulat,” pungkas Proxenus, meyakinkan.

Aristoteles tercenung. Rasa penasarannya terhadap Lasmini kian menjulang. Ia ingin lekas bertemu dengan wanita itu.

“Kapan aku dapat bertemu dengan Lasmini, Paman?”

“Besok.” Proxenus beranjak dari kamar Aristoteles. “Tapi kamu harus tidur dulu. Besok, selepas kau berguru pada Plato, kita akan makan siang di warungnya Lasmini. Warungnya masih buka, sampai menjelang senja.”

Aristoteles sepakat. Kini ia dapat tidur dengan pulas.

***

Lasmini menaburkan beberapa kecambah ke atas nasi. Nasi itu tidak dibalut dengan piring, melainkan daun pohon pisang yang telah dipotong rapi. Sambal kacang dilumuri di atasnya, setelah capar dan kangkung saling berpelukan. Hingga, jadilah nasi pecel pincuk yang siap dilahap.

Wanita jelita itu terperangah kala mendapati seorang lelaki perkasa dan maskulin, serta jakun yang kuat, menyapanya dengan lembut.

“Anda siapa? Paijo, ya?” tanya Lasmini.

Aristoteles menggeleng, lalu mengulurkan telapak tangannya. “Perkenalkan, namaku Aristoteles, pemikir, filsuf dari Macedonia, dan hendak berpetualang mencari ilmu dan memesan sepi di Athena.”

Lasmini makin terperangah. “Hahh? Aristoteles?”

“Iya, aku datang kemari untuk melamarmu.”

“Emang, jenengan niki sinten, geh? Kok, tiba-tiba main ngelamar saja.”

Aristoteles kebingungan. Ia tak tahu bahasa Jawa dan ia tak pernah tahu bagaimana cara basa-basi dengan wanita. Sebab, ia terlalu banyak memikirkan logika.

“Aku pengin kawin dengan kamu,” jelas Aristoteles sekali lagi.

Sepurane, mas Aris. Nek ngoten, jenengan kulo paringi tantangan.” Lasmini menatap Aris. Tatapan yang serius.

“Maksudnya?”

Lasmini terdiam beberapa menit. Otaknya bekerja keras memikirkan tantangan yang cocok untuk lelaki Macedonia ini. “Begini. Kalau mas Aris bisa bikin seribu nasi pecel dalam jangka waktu sehari, berarti mas Aris boleh mengawiniku.”

“Hahh? Seribu nasi pecel dalam sehari?” Aristoteles terkesiap. “Bukankah itu kisah Roro Jonggrang dalam pembikinan Candi Prambanan? Itu, kan, kisah klasik pada kepercayaan masyarakat di tanah Jawa.”

Lha, enggeh ngoten. Ini tanah Jawa, bukan Macedonia atau Athena.”

“Aku gak siap kalau begitu.”

“Lah, kok, gak siap, mas?” cecar Lasmini. Aristoteles dan Proxenus dibikinnya tak berkutik. “Kalau begitu, mas Aris sebenarnya sedang dijodohkan denganku to?”

“Ya, enggaklah,” sanggah Aristoteles. “Memangnya aku Siti Nurbaya?”

“Kalau begitu, buruan, mas bikinin aku seribu nasi pecel.”

Aristoteles mulai naik pitam. Ia merasa dipermainkan. Siang itu, di bawah terik matahari, Aristoteles mulai mencicipi nasi pecel. Sebab, jikalau ia benar-benar ditolak oleh Lasmini, paling tidak, ia pernah makan nasi pecel. Tapi, sayangnya, ia hanya makan kangkungnya saja.

“Loh, kok, rasanya pahit? Apa ini yang dinamakan Majapahit?”

Lekas-lekas Lasmini menyangkal. “La yang mas Aris makan cuma kangkungnya. Ya, jelas pahit to, mas.”

“Arrghhh. Sudah, sudah. Ayo, kita pergi saja, Paman,” ajak Aristoteles ke Proxenus yang diam-diam menyantap nasi pecel.

Sejak saat itu, sejarah tak pernah salah. Penolakan yang dilakukan oleh Lasmini begitu lugas. Aristoteles patah hati dan memutuskan untuk menikahi neng Pythias dan neng Herpyllis yang tak kalah cantik.

Andai saja kala itu Lasmini mau menerima lamaran Aristoteles, pasti sejarah akan menggemparkan manusia sejagat, bahwa Lasmini telah melahirkan anak-anak dari filsuf ternama di Athena. Namun, setidaknya wanita penjual pecel itu suka membaca, dan akan melahirkan generasi-generasi yang gemar membaca, menganalisis, dan menulis. Sehingga, kecerdasannya dapat melampaui kecerdasan sang filsuf; penemu cara berpikir rasio dan silogisme itu.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar