“Arab Spring” Menjalar Ke Indonesia, Mungkinkah?

Jika mendengar istilah “Arab Spring”, yang terlintas di benak kita tentunya adalah Timur Tengah. Terjadinya aksi  protes dan pemberontakan yang dilakukan dengan cara demo, pemanfaatan social media yang masif oleh masyarakat sipil dengan tujuan menggulingkan, melengserkan, dan mengkudeta yang diakibatkan oleh mosi tidak percaya terhadap pemimpin yang berkuasa saat itu.

Arab spring pertama kali terjadi di Tunisia, tapi saya pribadi lebih memilih untuk membahas peritiwa yang terjadi di Mesir. Menurut hemat saya, lebih dekat jika dianalogikan dengan kegaduhan yang terjadi di Indonesia saat ini. Terutama kudeta Mesir di tahun 2011 dan 2013.

Kudeta Mesir 2011 atau yang sering disebut revolusi 2011, dipelopori oleh bangkitnya Ikhwanul Muslimin. Isu perjanjian damai antara Mesir dan Israel mengundang kontrovesi dan menjadi legitimasi IM untuk meluncurkan kudeta dan pemberontakan kepada pemerintah yang diklaim pro terhadap Israel. Kebijakan Husni Mubarok yang diskriminatif terhadap Islam juga kerap digaungkan oleh IM guna menarik simpati muslim agar mereka bergabung dengan IM dan melegitimasi kudeta dan pemberontakan tersebut dengan jihad.

Muncul sebuah opini public bahwa jika muslim tidak ikut berjuang melengserkan Husni Mubarak maka keislamannya dipertanyakan. Gerakan IM juga didukung oleh Mohammed el-Baradei yang merupakan mantan Badan Energi Atom International, salah satu pengkritik kebijakan Husni Mubarak. Berbagai mecam pemberontakan, pengepungan, dan provokasi di social media mengantarkan kemenangan IM. Pada 11 Februati 2012 Husni Mubarak menyatakan mundur dari kursi kepemimpinan, dan diganti oleh salah satu kader terbaik dari kelompok IM yaitu Muhammad Mursi.

Apakah benar yang mereka inginkan adalah pergantian kepala negara? SALAH!

Apakah konflik terhenti saat apa yang diperjuangkan IM telah tercapai? TIDAK!

Apakah pemberontakan terjadi antara IM (muslim) dan pemerintah (non muslim)?BIG NO! mereka sama-sama muslim yang tidak sadar sedang berada dalam hasutan pihak ketiga.

Dengan diangkatnya Mursi, Mesir berada dalam kekuasaan IM. Namun ternyata  tidak membawa dampak spesifik terhadap keamanan di wilayah Mesir. Harapan akan terciptanya muslim yang anti diskriminasi, pemerintahan Mesir yang maju, muslim yang terbebas dari isu-isu ketertindasan seperti yang pernah dituduhkan pada Husni Mubarak hanyalah anagn-angan eutopis belaka.

Setahun setelah terpilihnya Mursi sebagai presiden sah, muncul pemberontak dari golongan Front Nasional yang mengatasnamakan kelompok sekuler, liberal, dan nasionalis, yang tak lain dan tak bukan dipimpin oleh Mohammed el-Baradei. Seperti kita tahu, Muhammad al-Baradei adalah pendukung IM dalam mengkudeta Husni Mubarak dan ingin memperjuangkan penegakan syariat Islam di Mesir, dan 2 tahun setelah itu ia bermetamorfosis sebagai golongan nasionalis yang menolak terhadap pemberlakuan syariat Islam oleh Mursi.

Kenapa di tahun 2011 Husni Mubarak bisa ditumbangkan?. Karena ada pihak ketiga yang menunggangi kelompok muslim dengan menjual isu pro Israel dan isu diskriminasi terhadap muslim. Yang tentunya propaganda ini menyulut emosi muslim sehingga banyak yang bergabung dengan IM guna menggulingkan Husni Mubarak.

Sedangkan di tahun 2013, Mursi juga dikudeta sama seperti yang dialami oleh Husni Mubarak oleh kelompok yang mengaku berasal dari golongan nasionalis yang menentang pemberlakuan syariat Islam oleh IM. Isu yang dijual saat itu adala isu intoleran IM, dan dilakukan oleh actor yang sama yaitu Mohammed el-Baradei.

Jelas disini bahwa arab spring yang terjadi di Mesir bukan untuk menumbangkan Husni Mubarok ataupun mengangkat Mursi. Bukan juga untuk menegakkan jihad dalam bentuk penerapan syariat Islam yang murni. Namun tujuan utamanya adalah membuat kegaduhan, kerusuhan, kekacauan hanya dengan ketikan jari dan informasi burung. Karena sejatinya yang terlibat dalam lingkaran kudeta tersebut tak lain dan tak bukan adalah bagian dari Islam itu sendiri. Sesama muslim, bentrok satu sama lain, diakibatkan oleh propaganda yang berasal dari sumber yang tidak jelas dan hasutan semata.

Tampaknya, kemunculan pihak ketiga yang menginginkan kehancuran di Indonesia sudah mulai tercium gelagat dan ciri-cirinya. Saat ini narasi yang dibangun adalah pemerintah diskriminatif terhadap muslim, pemerintah tidak pro Islam, pemerintah pro PKI, yang dibakar adalah emosi warga muslim terutama muslim awam yang mudah terprovokasi dengan nama agama. Jihad memerangi pemerintah seolah disamakan dengan hukum jihad dalam Islam, pro pemerintah artinya bukan muslim sejati, negara berdasarkan syariat Islam diclaim sebagai system terbaik untuk menyelesaikan seluruh problem yang dihadapi pemerintah saat ini. Setidaknya itu narasi yang saat ini terbangun. Apalagi tahun ini adalah tahun politik, dengan calon yang hanya berasal dari dua kubu maka semakin mudah provokator menjalankan aksinya.

Apa benar yang mereka inginkan adalah menumbangkan incumbent dan menaikkan kubu yang lain? No

Pun jika incumbent ternyata kalah dan kubu lawan menjadi penggantinya, mereka yang saat ini menjadi provokator akan berubah haluan menjadi tim pembela incumbent dengan menggandeng golongan nasionalis, liberal, sekuler diprovokasi untuk melawan kubu yang menang. Hanya isunya saja yang diganti, namun polanya tetap sama. Isu yang dibangun mungkin menolak penerapan syariat Islam, karena Indonesia bukan negara Islam. Yang mereka inginkan adalah menghancurkan Indonesia dengan segala potensi yang dimiliki.

Siapa pihak yang paling diuntungkan dalam kasus ini? Mereka pihak ketiga yang tidak kita sadari kemunculannya. Bagaimana tidak beruntung, hanya bermodal adu domba dan berita hoax dalam sosmed, secara perlahan mereka bisa hancurkan Indonesia jika kita terus terlena dalam permainannya. Sama seperti peristiwa Arab Spring di Mesir saat itu. 

Lutfiana Dwi Mayasari

Lutfiana Dwi Mayasari

Dosen Sejarah Peradaban Islam IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar