Al Quran dalam Fiksi Cina Kontemporer: Refleksi atas Karya Wen-chin Ouyang

Bagaimana mungkin dapat memahami dan menilai dampak Alquran terhadap komunitas muslim China ketika terjemahan pertama dari Qur’an dalam bahasa Cina dibuat oleh non-Muslim dari bahasa Jepang dan Inggris pada tahun 1927 dan 1931, dan dari seorang Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab pada tahun 1932? Pertanyaan tersebut yang mendorong Wen-chin Ouyang, Profesor di Universitas SOAS, London membahas bagaimana al-Quran mengejawantah dalam fiksi Cina kontemporer.

Ia menelisik cara-cara di mana Al Qur’an diimajinasikan, kemudian diwujudkan dalam teks-teks sastra yang ditulis oleh dua penulis Muslim China. Huo Da (lahir 1945) menyinggung Al Qur’an dalam novelnya A Muslim’s Funeral (1982), mentransformasikan ajarannya dalam kisah keluarga Muslim pada pergantian abad ke-20. Sedangkan novelis lain, Zhang Chengzhi (lahir 1948) melibatkan dirinya dalam merekonstruksi sejarah sekte Jahriyya Ṣūfī di China antara abad ketujuh belas dan kesembilan belas dalam satu-satunya novel sejarah, A History of the Soul (1991), dan memunculkan sebuah identitas untuk Muslim China yang didasarkan pada pengetahuan secara langsung tentang teks dan tradisi suci.

Wen-chin Ouyang memulai mengeksplorasi tentang hubungan antara Alquran dan identitas dalam fiksi Cina kontemporer dengan kutipan dari Al Qur’an yang mendasari tulisan-tulisan dari dua orang Muslim China yang telah ia pilih: Zhang Chengzhi (張承志, b 1948) dan Huo Da (霍達, b. 1945). Hal ini menginformasikan politik identitas mereka bahwa ayat itu muncul dalam novel Zhang, A History of the Soul, Xing-ling-shi (心靈 史, 1991), dan sepengetahuannya, ini mungkin satu-satunya kutipan dari Al Qur’an yang ditemukan di karya fiksi yang ditulis oleh orang-orang Muslim China.

Tidak ada kutipan dari Al Qur’an di karya A Muslim’s Funeral (Mu-si-lin-de-zang-li, 穆斯林 的 葬禮, yang ditulis pada tahun 1982 dan diterbitkan pada tahun 1988). Zhang dan Huo adalah Muslim yang telah mencapai ketenaran dan mendapat pengakuan di China sebagai penulis fiksi, meskipun dengan cara yang sangat berbeda. Dua novel yang ia teliti di sini unik bahkan di antara karya Zhang dan Huo, karena ini mewakili karakter dari karya sastra masing-masing novelis. Karya-karya ini membuka ‘asal-usul etnis’ dari dua penulis tersebut, dan dalam kasus Zhang, A History of the Soul menandai kelahiran kembalinya sebagai seorang Muslim, lahir sebagai aktivis Muslim di China, dan transformasi sebagai penulis. Dua karya sastra terpenting Muslim China menegaskan identitas Muslim mereka di dalamnya.

Alquran telah diajarkan kepada generasi-generasi Muslim China sejak abad kedelapan di masjid, madrasah, rumah dan dimanapun umat Islam bermigrasi melintasi wilayah yang dikenal sebagai China hari ini. Meskipun sebagian diterjemahkan ke bahasa China pada tahun 1862 di Yunnan. Muslim China harus belajar Alquran dengan cara sederhana yang hanya memungkinkan mereka untuk mengucapkan bacaan shalat dengan benar. Pendidikan bahasa Arab cenderung diperuntukkan bagi mereka yang dididik sebagai calon ahli agama, setidaknya sampai setelah tahun 1991 dan 1992, ketika kelas musim panas untuk anak-anak diperkenalkan.

Ini juga difokuskan pada hafalan melagukan bacaan alQuran (Qiraah) menurut Maris Boyd Gillette dalam studinya tentang Muslim yang tinggal di Beijing. Namun, ada ketidaksepakatan tentang bagaimana cara terbaik untuk mempelajari qiraah dalam al-Qur’an. Beberapa pendamping mengajarkan Al Qur’an dalam bahasa Arab dan yang lainnya bersikeras untuk menggunakan transliterasi dalam huruf Cina dengan bahasa Arab. Akses terhadap hasil kajian atau karya-karya ilmuwan Muslim dari dunia Arab dan Timur Tengah sangat terbatas bergantung pada kebijakan pemerintah.

Kebijakan luar negeri dari dinasti Song (960-1279), Ming (1368-1644) dan China dalam pergolakan Revolusi Kebudayaan (1966-76) memberikan makna bahwa Muslim China hidup terisolir dari Komunitas Muslim lainnya yang lebih luas, sementara kebijakan yang lebih terbuka dari dinasti Tang (618-907), Yuan (1271-1368), dan Qing (1644-1912), serta pasca-Mao China, melihat lalu lintas migrasi yang padat antara Muslim China dan Muslim di Timur Tengah, sebagaimana dibuktikan oleh gelombang terbaru dari apa yang disebut cendekiawan Islam di China sebagai ‘modernisasi dan Arabisasi’, atau cara-cara di mana umat Islam di China bercita-cita untuk menjalani gaya hidup setara dengan kaum Muslim lain di dunia, termasuk dalam penggunaan bahasa Arab.

 

Identitas, Kemasygulan dan Alquran

Kisah-kisah dalam novel A History of Soul dan A Muslim Funeral adalah cermin identitas dan kemasygulan yang diungkapkan. Salah satunya dalam silsilah keluarga Ma dan penguraian garis keturunan keluarga Liang / Han dalam novel tersebut memunculkan dua bentuk kemasygulan yang sama karena kurangnya koherensi identitas Hui. Hui, sebagaimana para ilmuwan Islam di China secara konseptual sulit dipahami dan tidak menemukan pembuktian dalam pengertian tentang ‘etnisitas’ atau ‘kewarganegaraan’ yang banyak digunakan dalam kaitannya dengan multikulturalisme di China.

Identitas Hui lebih didasarkan pada agama daripada ‘etnisitas’ atau ‘kewarganegaraan’. Mungkin yang lebih penting, adalah kesadaran Zhang dan Huo bahwa identitas itu hanya sebagai sebuah konstruksi, efek dari narasi dan wacana. Konstruksi silsilah keluarga Ma oleh Zhang dan dekonstruksi garis keturunan keluarga Liang/Han Huo menunjukkan kemustahilan dalam melacak Hui ke garis leluhurnya apalagi dalam kaitan dengan ‘etnisitas’. Bagaimanapun, nama terakhir seperti Ma untuk Hui, sebagai satu contoh, mungkin merupakan transkripsi fonetis dari nama Muslim mana pun yang dimulai dengan suara ‘m’, seperti Muḥammad. Ini mungkin bisa ditranskripsi sebagai Mu. Hui nama terakhir, tidak seperti Han, tidak harus mengacu pada garis keturunan. Apalagi, garis keturunan di antara Han lebih sering tidak tunduk pada adopsi dan fabrikasi.

Begitu pula jika menelisik perintah Tuhan dalam berpegang teguh pada tali agama secara bersama-sama (Q 3: 103) menemukan resonansi baru dalam konteks Tionghoa. Orang-orang Muslim Tionghoa memang terbagi menjadi beberapa faksi yang sering terlibat dalam konflik internal, dan instruksi yang terkandung dalam slogan ‘jangan dipecah menjadi faksi-faksi’, belum pernah dipatuhi. Dalam menghadapi perpecahan ini, apa yang kemudian dilakukan Hui ketika integrasi mereka ke dalam populasi lokal telah menghapus identitas bahkan ciri fisik aslinya, belum lagi praktik budaya, dan jarak mereka dari tanah air asli mereka telah dihapus dari status ‘mayoritas’ dan mengganggu akses mereka ke teks suci dan komunitas penafsir? Wa’tasimu bihablillahi jamia wala tafarraqu menjadi pesan tentang iman sebagai spiritualitas dalam novel dan ritual keagamaan Zhang sebagai cara untuk mendefinisikan dan melestarikan komunitas ‘minoritas’.

Alquran, yang bagi pembaca bahasa Arab adalah sebuah pengalaman dari kata dalam dunia bahasanya, dan sebuah teks paradigmatik yang memberi bentuk pada pandangan dunia, pengetahuan, dan narasi yang ada dalam teks Arab. Ada banyak referensi tentang Alquran di karya A Muslim Funeral, tapi semua ini adalah parafrase yang dimulai dengan perintah Alquran dan berakhir tanpa kutipan. Frekuensi ayat Alquran yang sering dikutip dalam novel Huo tidak dapat mengisi kekosongan sebagai teks paradigmatik yang hidup dan mendefinisikan dunia bahasa, seperti yang ditemukan dalam tulisan-tulisan Arab.

Baik Zhang dan Huo membangkitkan otoritas spiritual dan moral Alquran namun mereka tidak dapat menanamkan atau mewujudkan kehadiran sastranya, seperti yang ada dalam teks Arab. Alquran adalah elemen ‘asing’ di dunia Sinophone dimana teks-teks mereka terjalin. Hal itu bagian estetika karya mereka, terlepas dari yang diadopsi Zhang dari berbagai genre ekspresi Arab dan Sufi Persia, dan penjelasan menyeluruh tentang ritual Muslim Huo, berasal dari puisi bahasa Tionghoa, dan struktur narasi mereka berasal dari novel klasik Tiongkok. Alquran mungkin absen sebagai teks namun kehadirannya di dalam pikiran dan hati orang-orang Cina Muslim tidak diragukan lagi. Bahwa mereka tidak memiliki akses langsung ke sana juga memberi mereka dorongan untuk mencari tempat lain sebagai bentuk pencarian identitas. Wallahu a’lam.

Arik DJ

Arik DJ

Mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua IKA-PMII IAIN Ponorogo, Ketua Lembaga DIUN (Dakwah Insuri Untuk Negeri)

More Posts

Beri Komentar